Geopolitik

ASEAN di Tengah Rivalitas China-Amerika: Sentralitas atau Perpecahan?

3 menit baca
ASEAN di Tengah Rivalitas China-Amerika: Sentralitas atau Perpecahan?

ASEAN di Tengah Rivalitas China-Amerika: Sentralitas atau Perpecahan?

Ketegangan geopolitik antara China dan Amerika Serikat telah menempatkan ASEAN di posisi yang semakin rumit. Di satu sisi, kawasan Asia Tenggara merupakan wilayah strategis dalam tatanan Indo-Pasifik, di mana kedua kekuatan besar berusaha memperluas pengaruhnya. Di sisi lain, ASEAN berupaya mempertahankan prinsip “sentralitas” — gagasan bahwa organisasi ini menjadi pusat arsitektur kerja sama regional, bukan sekadar objek tarik-menarik kekuatan eksternal.

Rivalitas Ekonomi dan Keamanan

Rivalitas China-Amerika kini tidak hanya menyangkut isu militer, tetapi juga mencakup ekonomi, teknologi, dan infrastruktur. Melalui Belt and Road Initiative (BRI), Beijing menggelontorkan miliaran dolar ke Asia Tenggara untuk membangun pelabuhan, jalur kereta, dan jaringan energi. Proyek-proyek seperti kereta cepat Laos-China atau pelabuhan di Kamboja menjadi simbol keterikatan ekonomi baru.

Sebaliknya, Washington berusaha menandingi pengaruh tersebut melalui Indo-Pacific Economic Framework (IPEF), yang menekankan standar transparansi, rantai pasok yang tangguh, serta praktik ekonomi yang “adil dan berkelanjutan.” Namun, banyak negara ASEAN memandang IPEF masih bersifat abstrak dibandingkan investasi langsung dari China yang lebih konkret dan cepat.

Dalam bidang keamanan, Laut China Selatan menjadi titik panas utama. Tindakan agresif China di wilayah yang diklaim juga oleh beberapa negara ASEAN seperti Filipina dan Vietnam menimbulkan ketegangan berkepanjangan. Amerika Serikat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan Manila, Hanoi, dan Singapura — mempertegas posisi strategisnya di kawasan.

Tantangan terhadap Sentralitas ASEAN

Konsep sentralitas ASEAN diuji oleh perbedaan kepentingan antaranggota. Negara-negara seperti Kamboja dan Laos memiliki hubungan ekonomi yang sangat bergantung pada Beijing, sementara Filipina dan Vietnam cenderung lebih pro-AS karena konflik maritim. Perbedaan orientasi ini membuat ASEAN sering kesulitan mencapai konsensus, terutama ketika harus mengeluarkan pernyataan bersama terkait isu sensitif seperti Laut China Selatan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan fundamental: apakah ASEAN masih mampu menjadi aktor kolektif yang netral dan efektif? Beberapa pengamat menilai bahwa sentralitas ASEAN kini lebih bersifat simbolik ketimbang substantif. Ketika setiap anggota mengutamakan kepentingan nasionalnya dalam menghadapi dua kekuatan besar, kesatuan organisasi menjadi rapuh.

Persaingan Infrastruktur dan Teknologi

Selain aspek geopolitik, kompetisi antara China dan Amerika Serikat juga merambah ranah teknologi dan digital. China mendorong penyebaran teknologi 5G melalui Huawei dan ZTE, sementara Amerika menekan sekutunya untuk menghindari penggunaan infrastruktur buatan Beijing dengan alasan keamanan siber. ASEAN, sebagai wilayah dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di dunia, menjadi medan persaingan strategis.

Negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand mencoba mengambil posisi tengah: menerima investasi teknologi dari kedua pihak, namun tetap berusaha menjaga kontrol atas data dan infrastruktur digital nasional. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ASEAN berperan sebagai “arena kontestasi” sekaligus “penyeimbang pragmatis” dalam lanskap Indo-Pasifik.

Fragmentasi dan Realpolitik Regional

Meningkatnya tekanan eksternal memperlihatkan pola fragmentasi internal ASEAN. Mekanisme seperti ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit (EAS) yang dulu menjadi simbol dialog multilateral kini kehilangan daya tawar karena perbedaan kepentingan nasional. Sementara itu, China dan Amerika Serikat terus memperluas jaringan bilateral langsung dengan negara-negara ASEAN — memecah kesatuan diplomatik yang selama ini diandalkan.

Beberapa analis menilai bahwa ASEAN kini terjebak dalam realpolitik: mempertahankan netralitas formal, namun secara praktis tidak bisa menghindari aliansi fungsional dengan salah satu pihak. Di balik diplomasi yang tenang, negara-negara ASEAN menjalankan strategi ganda — menyeimbangkan ekonomi China dengan keamanan Amerika.

Masa Depan Arah Regional

Rivalitas China-Amerika bukan sekadar persaingan kekuatan, tetapi pertarungan visi atas tatanan dunia baru. Bagi ASEAN, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan sentralitas institusional, melainkan memastikan bahwa wilayahnya tidak menjadi ajang proksi kekuatan besar. Ketika hubungan ekonomi, teknologi, dan keamanan semakin terjalin silang, ASEAN dituntut membangun bentuk baru “sentralitas adaptif” — sebuah pendekatan fleksibel yang mengakomodasi perbedaan tanpa kehilangan arah kolektif.

Dalam konteks ini, masa depan ASEAN akan ditentukan oleh kemampuannya menavigasi badai rivalitas global tanpa kehilangan legitimasi regionalnya. Bukan hanya sebagai forum diplomatik, tetapi sebagai arsitek strategis yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik yang semakin bergejolak.

DAFTAR

#ASEAN #China #Amerika Serikat #Indo-Pasifik #Sentralitas ASEAN

Komentar